Kronologi Corona Virus

  • Bagian satu Pasien Nol

Menurut Business Insider, data pemerintah China menunjukkan kasus pertama virus corona baru muncul pada 17 November 2019.

Pada 31 Desember 2019, otoritas kesehatan China kemudian melaporkan kasus pertama COVID-19 kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebuah tim peneliti kemudian memaparkan bukti bahwa orang pertama yang dikonfirmasi positif terkena corona tercatat pada tanggal 8 Desember 2019.

Sedangkan penelitian yang dilakuka The Lancet pada bulan Januari menemukan bahwa orang yang pertama kali terkena virus tercatat pada tanggal 1 Desember 2019.

Tak sampai akhir Desember 2019, para pejabat China menyadari bahwa mereka sedang menghadapi virus baru.

Namun, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah China melarang membagikan informasi ini ke publik.

Sementara itu, The Washington Post mengungkapkan, dari data tersebut menunjukkan bahwa virus pertama kali menginfeksi seorang pria berusia 55 tahun dari Provinsi Hubei China.

Namun, identitas ‘pasien nol’ tersebut masih belum dikonfirmasi dan belum lengkap.

  • Bagian dua Corona terdeteksi di Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara positif virus corona ( Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di Tanah Air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat.

Hal ini diumumkan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020) kemarin.

Berikut fakta lengkapnya: Ibu dan anak, tertular WN Jepang Menurut Jokowi, dua WNI itu merupakan seorang ibu (64 tahun) dan putrinya (31 tahun).

Keduanya diduga tertular virus corona karena kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia.

Warga Jepang itu terdeteksi Corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia. Tim Kemenkes pun melakukan penelusuran dengan siapa WN Jepang itu melakukan kontak selama di Indonesia. “Orang Jepang ke Indonesia bertamu siapa, ditelusuri dan ketemu.

Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun,” kata Jokowi.

  • Bagian tiga Solusi (bagian akhir)

Virus Corona
Virus adalah mikroorganisme patogen yang menginfeksi sel makhluk hidup. Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Semua bentuk kehidupan dapat diinfeksi oleh virus, mulai dari hewantumbuhan, hingga bakteri dan arkea.[1] Istilah virus biasanya digunakan pada jenis virus yang menginfeksi sel-sel eukariota, sementara virus yang menginfeksi sel prokariota—seperti bakteri dan arkea—dikenal sebagai bakteriofag.

Ketika tidak berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel, virus berada dalam bentuk partikel independen yang disebut virion. Virion terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid. Pada beberapa virus terdapat amplop eksternal yang terbuat dari lipid.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai status virus sebagai makhluk hidup atau sebagai struktur organik yang berinteraksi dengan makhluk hidup.[2] Karena karakteristik khasnya ini, virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tumbuhan (misalnya virus mosaik tembakau). Ilmu yang mempelajari virus disebut virologi.

Corona
Koronavirus[1] atau coronavirus (istilah populernya: virus koronavirus corona, atau virus Corona) adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales.[2][3] Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia).[4] Pada manusia, koronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARSMERS, dan COVID-19 sifatnya lebih mematikan. Manifestasi klinis yang muncul cukup beragam pada spesies lain: pada ayam, koronavirus menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkan pada sapi dan babi menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengobati infeksi koronavirus pada manusia.

Koronavirus merupakan virus beramplop dengan genom RNA utas tunggal plus dan nukleokapsid berbentuk heliks simetris. Jumlah genom koronavirus berkisar antara 27–34 kilo pasangan basa, terbesar di antara virus RNA yang diketahui.[5] Nama koronavirus berasal dari bahasa Latin corona yang artinya mahkota, yang mengacu pada tampilan partikel virus (virion): mereka memiliki pinggiran yang mengingatkan pada mahkota atau korona matahari.

Pandemi koronavirus 2019–2020 atau dikenal sebagai pandemi COVID-19 adalah peristiwa pandemi penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggriscoronavirus disease 2019, disingkat COVID-19). Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.[1] COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi HubeiTiongkok pada bulan Desember 2019 setelah beberapa orang mengalami pneumonia tanpa sebab yang jelas dan prosedur perawatan dan vaksin yang diberikan ternyata tidak efektif. Kemunculan penyakit diduga berhubungan dengan pasar grosir makanan laut Huanan yang menjual hewan hidup. Sedikitnya 70% urutan genom SARS-CoV-2 sama seperti SARS-CoV.[2][3][4][5]

Per 18 Maret 2020, minimum 198.426 kasus telah terkonfirmasi, 80.894 di antaranya terjadi di daratan Tiongkok. Jumlah penderita yang meninggal mencapai 7.987. Kasus kematian terbesar di luar Tiongkok terjadi di Iran, Italia dan Korea Selatan.[6][7]

Peneliti terus berusaha untuk mengungkap bagaimana dan dari mana virus SARS-CoV-2, yang sekarang menjadi pandemi global ini, menjangkiti manusia. Salah satu yang dilakukan adalah dengan melacak pasien pertama virus SARS-CoV-2. Sebelumnya ilmuwan mencurigai kalau virus tersebut berasal dari kelelawar yang melompat ke hewan lain, selanjutnya menularkan ke manusia. Namun kini virus corona telah menyebar di antara orang-orang tanpa perantara hewan. Itu mengapa jika peneliti dapat melacak kasus paling awal, mereka mungkin dapat mengidentifikasi hewan inang tempat virus bersembunyi.

Solusi

Hal ini terungkap dalam dokumen pre-print hasil penelitian. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa virus terdeteksi hingga empat jam pada permukaan tembaga, hingga 24 jam pada kardus, serta hingga dua sampai tiga hari pada plastik dan besi tahan karat (stainless steel). Sedangkan di aerosol, virus ini masih terdeteksi hingga tiga jam setelah aerosol terbentuk. “Secara keseluruhan, stabilitas dari HCOV-19 dan SARS-CoV-1 sangat sama,” demikian tertulis dalam pre-print tersebut.
Orang yang terkena virus korona biasanya 1-17 hari atau 2,5 minggu, dengan rentan waktu 2,5 – 3 minggu mengisolasi diri baik yang terkena dan yang tidak terkena maka virus corona akan hilang dengan sendirinya, jangan panik, jangan anggap enteng, tetap waspada, petunjuk Isolasi sendiri (karantina / lockdown) sudah di ajarkan Manusia paling Mulia di muka bumi yaitu Muhammad Rasululloh Shalallahu alaihi wa alaihi wassalam dengan haditsnya:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Sejak Pemerintah mengeluarkan berita Indonesia terkena wabah Corona, kami sekeluarga langsung Mengikuti Hadits tsb, hingga hari ini tgl 16 April 2020 kami masih isolasi sendiri di rumah, selama isolasi / lockdown / karantina di rumah, saya WFH (Work From Home), Istri memang sudah dirumah, Anak Belajar di rumah. Semoga ALLOH Subhanahu Wata’ala melindungi kita semua, Aamiin Ya Robbal’Alamin.

Sumber : Di ambil dari berbagai sumber Media Informasi Internet dan juga Wikipedia.

Permanent link to this article: http://berilmu.com/blog/kronologi-corona-virus/

Leave a Reply

Your email address will not be published.